PERJUANGAN UNTUK MERAIH KESUKSESAN
Achmad Furqon
Saat itu masa masuk sekolah, semua sibuk
menanti pengumuman. Sedangkan adi si idiot itu duduk di depan sebuah ruang
kosong yang lama tidak digunakan, dia duduk dan membaca sebuah buku yang tebal.
Dia memang sangat
terkenal dengan sifatnya yang pendiam dan cenderung menyendiri, dia selalu
membawa satu buah buku di tangannya. Saat ujian penentuan kelulusan kemarin dia
mendapat nilai tertinggi di kelas, waktu itu ada seorang anak yang datang
terlambat mengikuti ujian, andre begitulah semua memanggilnya, dia memang suka
berangkat terlambat.
“Tok… tok… tok…!.
Assalamualaikum… boleh saya masuk pak?” suara pintu kelas terketuk di lanjutkan
dengan suara di balik pintu itu.
“Walaikumsalam… siapa ya?”. Tanya guru pengawas yang tengah duduk di mejanya.
“Saya pak, Andre!”. jawabnya dengan lantang.
“Ya, silahkan masuk”. Jawab pak guru, dan mempersilahkannya masuk.
Dengan cepat andre masuk
dan segera mengambil selembar kertas ujian, dengan cepat ia duduk dan
mengerjakan, karena waktu hampir habis.
“lima menit lagi anak anak!”. Suara itu memberikan tanda bahwa waktu hampir
habis.
Dari sudut tempat aku
duduk terlihat andre yang tegang dan buru buru karena waktunya akan habis,
banyak keringat yang menetes di mejanya, sedang si idiot itu terlihat tenang
dan santai.
Dan benar setelah lima menit bel berbunyi.
“Kring… kring… kring…”. Bel petanda selesainya ujian kini benar benar berbunyi,
semua peserta ujian menyerukan suaranya.
“Hore…, akhirnya ujian selesai”. Sementara anak itu masih mengerjakan ujian
dengan terburu buru.
“Waktunya selesai anak
anak. Semua kumpulkan kertas ujiannya di depan!”. Perintah pak guru.
“Baik pak…”. Sahut semua peserta ujian.
Kecuali si idiot itu ia tidak berkata
apa apa dari tadi. Semua segera mengumpulkan kertas ujiannya di meja guru
pengawas.
Setelah ujian waktu itu,
semua siswa sibuk mennggu hasil ujian yang akan diumumkan besok.
“Mungkinkah aku lulus?”. Tanyaku di dalam hati.
Akhirnya waktu yang ditunggu
datang juga, hari itu tiba semua siswa datang ke sekolah dan tertuju pada
sebuah ruangan tempat pengumuman kelulusan. Tiba di sana semua rasa tercampur
jadi satu.
“Duk… duk… duk…”. Suara
langkah kaki terdengar mendekati ruangan ini, semakin lama semakin keras.
“Ya alloh…, semoga lulus”.
Suara harapan itu terus terdengar, semua menunggu
hasilnya sementara si idiot itu tampak duduk menyendiri, dan tidak menghiraukan
semua yang ada di ruangan itu.
Langkah kaki itu
terhenti, tampak salah guruku di depan.
“Selamat pagi anak anak!”. Sapanya kepada semua siswa.
“Selamat pagi pak!”. Sahut semua siswa dengan lantang.
Tanpa banyak bicara lagi pak guru langsung membuka secarik kertas hasil ujian
kemarin. Akhirnya, semua perjuangan selama ini akan ditentukan hari ini.
“Semua peserta ujian
dinyatakan lulus semua”. Ujar pak guru, setelah membaca hasil ujian.
“Alhamdulillah…”. Semua menyerukan kata yang sama diruangan itu.
“Baiklah anak anak. Untuk juara III diraih oleh… stevan!. Juara I dan juara ke
II diraih oleh adi dan andre!. Untuk peraih juara I, II dan III selamat untuk
kalian”.
Semua siswa terdiam dan
tampak heran, bagaimana tidak pasalnya stevan anaknya cupu, andre dia suka
terlambat berangkat sekolah, dan adi si idiot itu dia tidak pernah
bersosialisasi dengan teman temannya. Sedangkan aku berada pada peringkat ke IV
dibawah anak cupu itu.
Setelah pengumuman semua
kembali pulang ke rumah masing masing, aku yang masih merasa aneh dengan hasil
ujian yang disampaikan pak guru terus memikirkannya sampai di rumah. Mungkin
itulah hasil kerja keras mereka selama ini, yang semua orang tidak tahu. Dan
dari pengalaman yang aku alami aku bisa belajar untuk lebih menghargai orang
dan tidak menggapnya sebelah mata.
Kupandangi langit malam
yang cerah mengandung rembulan dengan balutan sinar keemasan. Tak mau kalah,
jutaan bintang gemintang yang gemerlap pun tersebar luas bagai hamparan
permadani. Aku yakin, diantara jutaan bintang itu pasti ada satu milikku dan
suatu saat nanti aku akan dapat menggapainya dengan kemauan dan tekad yang
kuat.
Aku memang terlahir dari
keluarga yang berlatar belakang ekonomi rendah. Atau mungkin ekonomi paling
bawah. Namun hal tersebut bukan masalah bagiku, dan tak sedikitpun menyurutkan
niatku untuk terus belajar dan bersekolah setinggi mungkin supaya semua impianku
dapat menjadi nyata.
Beberapa tahun yang lalu,
tepatnya saat aku hendak mamasuki jenjang pendidikan menengah atas. Aku dan
kedua orangtuaku kembali dipusingkan oleh masalah ekonomi yang semakin sulit.
Dulu wajib belajar hanya 9 tahun, dan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan
yang lebih tinggi adalah hal yang mustahil untuk masyarakat ekonomi rendah
sepertiku.
Ditambah lagi beban hidup di kota besar seperti ini, dimana setiap langkah kaki
harus beralaskan lembaran permadani bernominalkan rupiah.
Namun lagi-lagi kutepis semua pemikiran mustahil yang ada di benakku. Setiap
pulang sekolah aku selalu meluangkan waktu untuk bekerja demi sepeser rupiah
dan berusaha mencari peluang beasiswa-beasiswa agar aku bisa belajar di bangku
Sekolah Menengah Atas.
Bersyukur, adalah sebuah
kata dalam kamus hidupku yang tidak akan pernah usang dikikis masa. Tuhan telah
menititipkan kecerdasan padaku, sehingga dengan kondisi ekonomiku yang seperti
ini aku masih memiliki peluang sekolah yang cukup besar.
Tuhan memang maha Adil, dibalik kesulitan selalu ada kemudahan.
“Mas, kowe iseh pengen
nglanjutke sekolahmu meneh po?” Ibu masih sibuk dengan gorengan ditampahnya.
“Njih bu, Dimas arep usaha nggolek beasiswa ben iso sekolah meneh.”
“Halah Mas, mbok rasah mimpi. Kowe kuwi mung anak bakul ronsok, sopo sing arep
mbayari sekolahmu?”
Kalimat terakhir dari bapak benar-benar menjadi anak panah
yang dengan cepat bersarang di relung hatiku. Kalau dipikir dengan logika
memang ucapan bapak benar. Namun, akankah aku meyerah begitu saja pada
kalkulasi takdir?
Lagi-lagi Tuhan memang selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Berkat usah dan kerja kerasku, akhirnya aku berhasil duduk di bangku salah satu SMA Negeri Favorit Jakarta. Kini aku kembali berhasil mengalahkan kemustahilan dari kalkulasi takdir yang bersarang di kehidupanku.
Namun tak lama setelah aku
bersekolah di tempat itu Bapak pergi meninggalkan aku, ibu dan adikku untuk
selamanya.
“Aku tahu, saat ini
perasaanmu hancur lebur bercampur layaknya bubur yang hambar tanpa bumbu. Tapi
yakinlah selalu ada jalan untuk orang yang mau mengubah hidupnya.” Alin turut
berduka atas kepergian bapakku.
“Sungguh, aku tidak ingin kehilangan bapak untuk selamanya. Aku tidak sanggup
menatap apa yang akan terjadi nantinya.” Tanpa kusadari tangisanku pecah,
tumpah-ruah.
“Aku mengerti betul perasaan yang kau rasakan, aku pun pernah merasakan hal
yang sama. Jika kau ingin menangis, menangislah sampai menelaga. Menangislah
selagi kau masih bisa menangis, karena itu manusiawi.” Alin memang selalu
mengerti kondisiku, ia adalah teman seperjuanganku yang sama-sama menggantukan
kehidupannya dari tumpukan sampah Ibu Kota.
Begelantunan merebah
malam yang kian tawar dengan dihantui rasa kesedihan yang tak kunjung sirna.
“Sampai kapan kau akan seperti ini? Ibu dan Azizah membutuhkanmu, ayo
bangkitlah bangkit! Bangkiitt! Bangkiiitt!!” Aku terkesiap bangun dari tidurku
ketika sepasang suara dalam mimpi itu meneriakiku tanpa ampun.
“Oh sudah subuh ya?” gumamku lirih melirik jam dinding usang yang menempel di
dinding. Kuambil air wudhu dan segera melaksankan sholat sebagai salah satu
kewajibanku kepada Sang Khalik.
Pagi datang menjelang.
Mentari timbul menyingsing.
Aku pun harus kembali ke sekolah dan kembali kepada keseharianku yang melelahkan.
Tak terasa sudah hampir dua tahun aku menimba ilmu di sekolah ini. Aku bertekad
untuk lulus dengan nilai terbaik supaya aku dapat dengan mudah meraih beasiswa
untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri.
Rupanya, harapan tak
selalu sejalan dengan kenyataan. Dan impian tak selalu senada kehidupan.
Perjalananku ketika menimba ilmu di sini tidak semudah yang ada dipikiranku.
Banyaknya diskriminasi sosial yang aku dapatkan selama di sini kerap kali
hampir menumbangkan mimpi-mimpiku dan tak sedikit dari teman-teman di kelas
yang tidak menyukai keberadaanku. Mereka selalu beranggapan bagaimana bisa
seorang anak yang menggantungkan hidupnya dari tumpukan sampah bisa bersekolah
di sini?
Namun sekali lagi, aku selalu berusaha mengokohkan kembali mimpi-mimpi yang
hampir tumbang itu. Tak pernah kudengarkan cemoohan mereka, apalagi
meladeninya. Kuanggap cacian yang bertubi-tubi dari bibir mereka semua adalah
do’a yang akan mengantarkanku kepada kesuksesan.
“Dimas, mengapa
belakangan ini prestasi belajarmu menurun?” Aku hanya menunduk, menggurat-gurat
lantai keramik dengan sepatu dekilku.
“Kalau prestasimu menurun seperti ini terus sepertinya saya terpaksa harus
mencabut beasiswa pendidikanmu!” Tukas kepala sekolah dengan nada agak tinggi.
“Tap.. tapi pak.. Saya mohon jangan cabut beasiswa saya. Saya baru saja
kehilangan ayah saya.” Tak tega melihat rona hujan kesedihan di wajahku
akhirnya kepala sekolah memberikanku satu kesempatan untuk memperbaiki prestasi
belajarku yang menurun.
Lagi-lagi, cobaan itu
datang menyerang tanpa kenal ampun. Menghantam tanpa kenal padam. Perlakuan
kurang menyenangkan itu hadir lagi ketika aku hendak berusaha memperbaiki
prestasi belajarku. Aku mendapat kecurangan dari pihak siswa dan guru yang
tidak menyukai keberadaanku. Siswa tersebut memberikan sogokan kepada salah
satu guru demi menurunkan reputasi prestasiku di sekolah. Dan benar saja karena
kecurangan itu, kini beasiswaku dicabut oleh pihak sekolah.
Masa tenggang pendidikanku di sini hanya tinggal satu tahun sebelum kelulusan.
Namun, kini yang menjadi masalah adalah bagaimana aku menyelesaikan pendidikan
ini? sedangkan saat ini aku tidak memiliki uang sepeser pun?
Dan pada akhirnya, mau tidak mau kini aku harus bekerja lebih keras demi
mencukupi biaya kebutuhan sehari-hari dan biaya bulanan sekolahku.
Jarum jam dinding usang
di kamarku kini berpijak tepat pada sepertiga malam. Beralaskan sajadah kusam
kurendahkan diri di hadapan sang Illahi demi memohon curahan kasih sayang dan
anugerah-Nya. Air mata yang jatuh sudah tak terhitung lagi. kucurahkan segala
keluh kesah yang menjadi beban terberatku. Semoga pada sepertiga malam ini sang
Illahi mendengar rintihan satu lagi hambanya yang merindukan kasih dan
sayang-Nya.
Satu lagi pagi, satu lagi
mimpi terlewati. Entah sebuah keajaiban atau jawaban dari Tuhan atas do’aku
malam itu, hari ini aku kembali dipanggil oleh kepala sekolah. Dan ternyata
beliau memberikan kembali beasiswa itu kepadaku.
“Dimas, saya berikan kembali kepadamu beasiswa pendidikan di sekolah ini. Saya
baru saja mendapatkan bukti bahwa telah terjadi moneypolitik di belakang ini
semua. Memang prestasi belajarmu sempat menurun, namun kini kamu telah
membuktikan prestasi yang baik. Selamat!”
Hingga tiba saatnya hari
kelulusan. Dengan perjuangan yang keras Alhamdulillah aku dapat lulus dari
sekolah ini dengan predikat siswa terbaik. Dan tak hanya itu, impianku untuk
melanjutkan ke jenjang Perguruaan Tinggi pun berhasil kuraih.
Satu lagi mimpiku yang dapat menjadi nyata. Sungguh besar anugerah Tuhan
untukku, dan hanya dengan bersyukurlah caraku untuk berterima kasih.
Namun, dibalik kabar bahagia itu. Kabar duka kembali menghampiri hidupku,
ternyata Tuhan lebih menyayangi keluargaku. Kini ibu dan adikku yang harus
pergi menyusul bapak untuk menghadap sang Illahi.
Rona warna gelap mucul di
timur Negeri yang penuh hinar binar
Menembus beberapa digit kesedihan yang tertuang Aku hanya seorang diri,
menyendiri, sendiri Terperangkap dalam kehidupan yang fana
Terbang bersama sejuta mimpi yang tak tahu mana ujungnya
Meniti kehidupan yang hakiki
Bersama sang Illahi
Kini aku telah berhasil
melewati serangkaian tikungan, turunan dan tanjakan yang Tuhan persembahkan
untuk kehidupanku. Tujuan utamaku dulu adalah menjadi pahlawan untuk Negeri
Indonesia tercinta ini. Bukan seorang pahlawan yang mengangkat senjata dan
berperang menumpahkan darah, namun menjadi pahlawan pendidikan yang akan
mencerdaskan jutaan anak bangsa yang hidup diambang garis takdir yang
memilukan.
Perjuanganku kembali
dimulai saat aku mulai merintis “Istana Pendidikan Anak Pinggiran”. Sekolah ini
kudirikan bersama segenap rekanku sebagai dedikasi untuk Negeri. Seuntai
layanan untuk anak pinggiran yang haus akan pendidikan.
Sudah cukup lama sekolah ini berdiri. Dan cukup tinggi antuasias masyarakat
yang senantiasa mendukung serta membantu menghidupkan kegiatan pembelajaran di
sekolah ini.
Namun kala itu, perlahan
satu-persatu rekanku yang sekaligus tenaga pengajar di sini pergi meninggalkan
sekolah kami.
“Saya butuh kehidupan yang menjanjikan.” Itu adalah salah satu alasan yang
mereka utarakan. Beruntungnya, masih ada beberapa dari mereka yang dengan
sukarela mengajar di sini. Aku sangat bersyukur sekolah ini tidak jadi kandas
di persimpangan. Aku berharap masih ada diantara ratusan manusia berdasi yang
memikirkan nasib anak-anak pinggiran disini. Masih ada segores pilu dalam qalbu
mereka yang lena duduk diatas empuknya kursi Dewan untuk memperhatikan
pendidikan orang-orang berkebutuhan. Ya, itulah harapaku dalam langkah
perjuangan. Perjuangan ini belum usai. Belum usai.
Hari-hari yang berlalu kian
pasti
Satu demi satu melangkah untuk menaiki anak tangga kehidupan
Meneteskan peluh dijalanan gersang ibukota
Berjuang meraih asa demi sebuah pendidikan
Kalau aku bisa kirimkan proposal kepada Tuhan
Akan kukirim jutaan proposal
Agar kehidupan dan pendidikan
Terus beriringan bersama dengan kesejahteraan.
Kini kakiku sudah
mempunyai tujuan, melangkah menuju sekolah hijau yang berada di Puncak Bukit.
Sekarang langkah kakiku sangat ringan karena aku dapat melihat senyuman
anak-anak yang memiliki impian yang besar. Senyuman yang mengobati semua rasa
sakit yang kurasakan.
Akupun menjawab
“Seorang Wanita harus menjaga auratnya agar hidupnya merasa tenang”. Mendengar
jawabanku, iapun merasa kebingungan dan pergi meninggalkanku.
Karena penasaran dengan anak itu, aku pun mengikutinya sampai ke rumahnya. Aku melihatnya bekerja membantu orangtuanya, yang mana hal itu tidak pantas untuk anak seusia dia yang masih muda. Aku mendekatinya dan bertanya “Apakah kamu tidak sekolah, Dek?” sambil mengusap kepalanya.
“Aku ingin sekolah,
tetapi aku tidak tahu akan sekolah di mana. Orangtuaku tidak pernah menyuruhku
untuk sekolah” jawab anak itu.
“Apa kakak boleh tahu
siapa namamu?” tanyaku kembali.
“Namaku Sisi”
jawabnya.
Memberanikan diri
untuk berbicara dengan orangtuanya. “Permisi… Bu, kenapa Sisi tidak sekolah?,
dia itu masih muda” tanyaku kepada Ibunya Sisi.
“Untuk apa Sisi
sekolah? Lebih baik Sisi membantu orangtuanya di rumah” jawab Ibunya Sisi
dengan tegas. Aku terus menasehati ibunya Sisi agar mau menyekolahkan anaknya,
namun beliau tetap menolaknya.
Aku pun mengajak teman-teman Sisi agar mau ikut belajar dengan Sisi di Puncak Bukit. Aku bangga dengan anak-anak disini. Walaupun orangtua mereka tidak setuju, mereka tetap pergi ke Puncak Bukit untuk belajar.
Lalu, suatu hari salah satu orangtua murid dari murid yang kudidik, tidak sengaja melewati tempat kami belajar. Berawal dari satu orangtua hingga akhirnya seluruh orangtua yang ada di desa berkumpul dan membangun sekolah hijau untuk anak-anak.
Waktupun berlalu, aku masih mengajar di tempat ini karena aku telah terpaku oleh senyuman mereka. Tiba-tiba Sisi menghampiriku “Kak Andini… Aku ingin menjadi seperti kakak, seorang Muslimah yang kuat dan dapat membimbing kami semua menjadi seorang anak yang hebat” ujarnya.
Akupun menjawab
“Jangan pernah menjadi orang lain, jadilah dirimu sendiri dan percayalah… Allah
merencanakan yang terbaik untuk hambanya”. Kami pun berdua tersenyum dan
kembali melanjutkan pelajaran.
~ ... ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar