BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia adalah makhluk individu dan sosial, dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial
terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak dapat terlepas
dari individu yang lain. Secara kodrat manusia akan selalu hidup bersama. Dalam
kehidupan semacam inilah terjadi interaksi dan komunikasi baik dengan alam
lingkungan dengan sesamanya
maupun dengan Tuhannya.
Dalam proses interaksi dan
komunikasi diperlukan keterampilan berbahasa aktif, kreatif, produktif dan
resetif apresiatif yang mana salah satu unsurnya adalah keterampilan membaca yang bertujuan untuk menangkap dan memahami pesan ide serta
gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan.
Dengan demikian membaca sangat penting dalam proses belajar mengajar, oleh karena itu penulis akan mencoba menyusun konstribusi ilmu membaca dalam peningkatan mutu KBM di sekolah.
Dengan demikian membaca sangat penting dalam proses belajar mengajar, oleh karena itu penulis akan mencoba menyusun konstribusi ilmu membaca dalam peningkatan mutu KBM di sekolah.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam rumusan
makalah ini penulis akan memfokuskan pada beberapa
masalah di bawah ini.
1. Salin wacana kurang lebih 1200 kata. Kemudian
tentukan jenis wacana tersebut.
2. Ambil
sampel 100 kata dari wacana tersebut. Kemudian hitunglah jumlah kalimat, suku
kata, dan peringkatnya menurut teori Fry.
1.3 Tujuan
Adapun
tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui jenis wacana.
2. Untuk
mengetahui hasil dari sampel 100 kata dalam wacana dengan menghitung jumlah
kalimat, suku kata, dan peringkatnya menurut teori Fry.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Jenis Wacana
Berikut
ini wacana yang penulis kutip.
Olah
Perspektif Pengembangan Teknologi Pendidikan
Teknologi Pembelajaran merupakan suatu bidang studi terapan
yang awalnya timbul dengan mensistensiskan berbagai teori dan konsep dari
berbagai disiplin ilmu, ke dalam suatu usaha terpadu untuk memecahkan masalah
belajar yang tidak terpecahkan denga pendekatan yang telah ada sebelumnya.
Setiap bidang studi akan dapat berkembang bilamana didukung oleh penelitian
yang dilakukan secara terus menerus. Penelitian dalam bidang studi teknologi pembelajaran
tidak terlepas dari: (1). Falsafah dan landasan ilmiah yang telah menunjang
keberadaannya seperti yang diungkapkan Robert Morgan (1978) bahwa terdapat 3
(tiga) disiplin utama yang menjadi dasar teknologi pembelajaran yaitu ilmu
prilaku, ilmu komunikasi dan ilmu manajemen, sedangkan pendapat Donald P.Ely
(1983) Teknologi Pembelajaran meramu sejumlah disiplin dasar dan bidang
terapannya menjadi sesuatu prinsip, prosedur serta ketrampilan. Disiplin yang
member kontribusi adalah: Basic Contributing Discipline (komunikasi, psikologi,
evaluasi dan manajemen) dan Related Contributing Fields (psikologi persepsi,
psikologi kognisi, media, system dan penilaian kebutuhan). (2). unsur-unsur
dasar yang membentuknya, ini seperti dalam AECT (1994) terdiri dari kawasan
Teknologi Pembelajaran yang terdiri dari Fungsi manajemen pembelajaran, Fungsi
pengembangan pembelajaran dan Sumber belajar, (3). arah perkembangan dan
kegunaannya, Paul Harmon (1982) berpendapat bahwa Teknologi Instruksional
berawal dari praktek pendidikan yang mendapat masukan dari psikologi perilaku
dengan pembelajaran terprogramnya, psikologi kognitif, teknologi permesinan,
teknologi audio visual dan teknologi computer sehingga berkembang kearah
rekayasa kinerja (performance engineering) dalam bidang usaha, sIstem
pendidikan di sekolah dan luar sekolah, kemiliteran dan pembelajaran berbatuan
komputer. Pendapat lain dari Kent R.Wood, Don C.Smillie dan Michael de Bloois
(1990) mengatakan bahwa pada awalnya ilmu perpustakaan yang bersinggungan denan
ilmu informasi berkembang menjadi bidang komunikasi audio-visual dan kemudian
berkembang menjadi bidang media instruksional, bidang ini bersinggungan dengan
pengembangan kurikulum. Glenn Snelbecker (1974) mengatakan bahwa kurikulum
berkepentingan dengan pertanyaan “What” dan “Why” atau isi dan tujuan pendidik
sedang teknologi pendidikan berkepentingan dengan “How” atau cara bagaimana
tujuan pendidikan yang dicapai.
Dari penjelasan tersebut telah dapat kita reka tentang apa
sebenarnya yang menjadi bidang garapan dalam Teknologi Pembelajaran. Yang
paling esensial menurut penulis adalah bahwa perkembangan arah penelitian
teknologi pembelajaran berlangsung dengan fase-fase yang mempersoalkan tentang:
apa ada hasilnya?, seberapa besar hasilnya?, bagaimana kondisi dalam memperoleh
hasil? siapa yang akan memperoleh manfaatnya? dan secara komprehensif pebelajar
dengan kondisi yang bagaimana dapat memperoleh manfaat yang maksimal (dalam
kondisi tertentu).
Potensi Teknologi Pendidikan mengandung komponen-komponen
Teori dan Praktek dalam Desain, Pengembangan, Pemanfaatan, Pengelolaan dan
Penilaian Proses dan Sumber untuk Belajar dapat bersinergi dengan berbagai
bidang. Dengan demikian Teknologi Pendidikan tentunya banyak berkiprah secara
luas untuk memajukan system pendidikan di Indonesia melalui potensi-potensinya.
Secara umum potensi-potensi Teknologi Pendidikan (Ely, 1979).
1. Meningkatkan produktivitas
pendidikan dengan jalan: mempercepat tahap belajar (rate of learning), membantu
guru untuk menggunakan waktu secara baik dan mengurang beban guru dalam
menyajikan materi, sehingga akan dapat banyak membina dan mengembangkan
kegairahan pebelajar.
2. Memberi kemungkinan pembelajaran
lebih bersifat individual dengan jalan: mengurangi control guru dan member
kesempatan pebelajar berkembang sesuai dengan kemampuannya.
3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah
terhadap pembelajaran dengan jalan: perencanaan program pembelajaran yang
sistematis dan pengembangan bahan yang dilandasi penelitian perilaku.
4. Lebih memantapkan pembelajaran
dengan jalan: meningkatkan kapabilitas manusia dengan berbagain media komunikasi dan penyajian informasi dan data lebih kongkrit.
5. Memungkinkan belajar secara seketika
(immediacy of learning), karena hal ini dapat mengurangi jurang pemisah antara
pembelajaran di dalam dan diluar kelas juga memberi pengetahuan langsung.
6. Memungkinkan penyajian pembelajaran
lebih luas, terutama adanya Media massa dengan jalan: pemanfaatan bersama
(secara lebih luas) tenaga atau kejadian-kejadian langka serta penyajian
informasi menembus batas geografi.
Belajar dengan cara menyenangkan bagi pebelajar, banyak
kurang mendapatkan perhatian tenaga pendidik, sebagian besar tenaga pendidik
mengajar dengan ceramah dan menjejali pebelajar dengan materi demi memenuhi
target kurikulum. Sebenarnya kita sebenarnya telah melakukan inovasi-inovasi
telah dikembangkan dan disebarluaskan, kita dapat berbangga hati karena telah
melakukannya, akan tetapi kita tidak terlalu berbangga hati dan sibuk dengan
kegiatan diri sendiri tanpa melihat disekeliling kita bagaimana Negara-negara
tetangga menyiasati tantangan masa depan untuk membawa bangsanya pada
persaingan global ? tentunya bangsa Indonesia juga akan terkait dengan masalah
tersebut. Indonesia adalah Negara terbesar di Asia Tenggara, tentunya semakin
rumit masalah yang akan dihadapi dimasa mendatang.
Dua masalah pokok yang umum dihadapi oleh setiap Negara
yaitu peningkatan mutu dan perluasan kesempatan belajar. Berbagai upaya telah
dilakukan oleh banyak Negara dengan mengagendakan reformasi pendidikan sebagai
agenda pembangunan untuk mengatasi masalah tersebut. Pendayagunaan Teknologi
Pendidikan (Educational Technology) atau apapun namanya banyak versi yang telah
dikembangkan oleh Negara-negara tersebut seperti Teknologi untuk Pendidikan
(Technology for Educational), Teknologi Informasi (Information Technologi/IT)
atau Teknologi Komunikasi dan Informasi (Information and Comunication
Technology / ICT) telah diyakini sebagai salah satu cara strategis untuk
mengatasi masalah tersebut.
Penulis: Dede Basuni
Tersedia: http://istpi.wordpress.com/2012/02/28/olah-perspektif-pengembangan-teknologi-pendidikan/html.
Para
pembaca pasti pernah membaca berbagai jenis karangan dari berbagai sumber
bacaan, tetapi mungkin belum tahu karakteristiknya sehingga tidak pernah
memikirkannya termasuk karangan jenis apa. Bacaan yang pernah dibaca mungkin
berjenis deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi. Jenis-jenis
karang itu mempunyai tujuan masing-masing sesuai dengan keinginan penulisnya
terhadap pembaca.
Berdasarkan
kutipan yang penulis ambil melalui internet dan sesuai dengan rumusan masalah
pertama, maka wacana tersebut termasuk ke dalam karangan deskripsi yang menurut
Jauhari (2013:45), “karangan deskripsi adalah karangan yang menggambarkan atau
melukiskan benda atau peristiwa dengan sejelas-jelasnya sehinngga pembaca
seolah-olah melihat, merasakan, mencium, dan mendengarkannya”. Karangan jenis
ini bermaksud memberikan kesan pada pembaca sehingga pembaca dapat membayangkan
apa yang sedang dibacanya.
2.2 Menghitung
Jumlah Kalimat, Suku Kata, dan Peringkatnya Menurut
Teori Fry
Keterbacaan merupakan alih bahasa
dari “Readability” yang merupakan turunan dari “Readable”,artinya dapat dibaca
atau terbaca. Keterbacaan adalah hal atau ihwal terbaca-tidaknya suatu bahan
bacaan tertentu oleh pembacanya. Keterbacaan mempersoalkan tingkat kesulitan atau
tigkat kemudahan suatu bahan bacaan tertentu bagi peringkat pembaca tertentu.
Keterbacaan merupakan ukuran tentang sesuai-tidaknya suatu bacaan bagi pembaca
tertentu dilihat dari segi tingkat kesulitan atau kemudahan wacananya. Untuk
memperkirakan tingkat keterbacaan bahan bacaan, banyak dipergunakan orang
berbagai formula keterbacaan. Tingkat keterbacaan biasanya dinyatakan dalam
bentuk peringkat kelas. Setelah melakukan pengukuran keterbacaan sebuah wacana,
orang akan dapat mengetahui kecocokan materi bacaan tersebut untuk peringkat
kelas tertentu.
Menurut Sakti (2011), “formula
keterbacaan Fry ini mendasarkan formula
keterbacaannya pada dua faktor utama, yaitu panjang-pendeknya kata dan tingkat
kesulitan kata yang ditandai oleh jumlah (banyak-sedikitnya) suku kata yang
membentuk setiap kata dalam wacana tersebut”.
Pertimbangan panjang-pendek kata dan
tingkat kesulitan kata dalam pemakaian formula keterbacaan, semata-mata hanya
didasarkan pada pertimbangan struktur permukaan teks. Struktur yang
secara visual dapat dilihat. Sedangkan konsep yang terkandung dalam bacaan
sebagai struktur dalam dari bacaan tersebut tampaknya tidak
diperhatikan. Dengan kata lain, rumusan formula-formula keterbacaan sering
digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan itu tidak memperhatikan unsur
semantis.
Seperti halnya kriteria kesulitan
kalimat, kriteria kesulitan kata juga didasarkan atas wujud (struktur) yang
tampak. Jika sebuah kalimat secara visual tampak lebih panjang, artinya kalimat
tersebut tergolong sukar, sebaliknya, jika sebuah kalimat atau kata secara
visual tampak pendek, maka kalimat tersebut tergolong mudah.
Bagaimana dengan kriteria kesulitan
kata? Apakah panjang-pendeknya sebuah kata benar-benar dapat menjadi indikator
bagi tingkat kesulitan kata yang bersangkutan? Bila dibandingkan, kata era dan
kata zaman, maka kita akan menyetujui bahwa kata era lebih tinggi
keterbacaannya, walaupun katanya lebih pendek dibandingkan dengan kata zaman,
begitu pula sebaliknya.
Contoh wacana;
“Pada suatu hari Inu ikut ayahnya
ke bank. Di bank itu banyak orang. Di loket tabungan ada yang mengambil uang.
Ada juga yang menyimpan uang. Di loket yang lain orang-orang juga antre. Ada
juga beberapa petugas bank duduk di luar loket-loket antrean. Mereka melayani
orang-orang yang bertanya tentang cara-cara menabung atau hal-hal lain. Ayah
Inu berada di barisan loket tabungan. Inu menunggu ayahnya di ruang tunggu. Dia
memperhatikan kesibukan orang-orang ditempat itu. Waktu Inu melihat satu kursi
kosng di depan petugas yang melayani pertanyaan, dia segera berdiri. Inu
mendekati kursi itu. Petugas pun mengerti, lalu dia mempersilakan Inu duduk dan menawarkan bantuan yang
mungkin dapat dia berikan”.
Rata-rata jumlah kalimat pada sampel
di atas adalah 12 + 8/16 kalimat. Menjadi 12.5 kalimat. Dari wacana sampel tadi kita peroleh ada 228
suku kata. Perhatikan grafik Fry. Kemudian data yang kita peroleh dari langkah
1 dan 2 kita plotkan ke dalam grafik untuk mencari titik temunya. Pertemuan
antara baris vertikal dan horizontal menunjukkan tingkat-tingkat kelas pembaca.
Tingkat keterbacaan ini bersifat perkiraan. Oleh karena itu, peringkat
keterbacaan wacana sebaiknya ditambah 1 tingkat dan dikurangi 1 tingkat. Diketahui
titik temunya adalah 7, maka tingkat keterbacaan yang cocok untuk peringkat 6,
7, 8.
BAB
3
SIMPULAN
Akhirnya
makalah yang penulis buat sampailah pada simpulan. Berdasarkan penjelasan pada
bab-bab sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan.
1. Berdasarkan
kutipan yang penulis ambil melalui internet dan sesuai dengan rumusan masalah
pertama, maka wacana tersebut termasuk ke dalam karangan deskripsi yang menurut
Jauhari (2013:45), “karangan deskripsi adalah karangan yang menggambarkan atau
melukiskan benda atau peristiwa dengan sejelas-jelasnya sehinngga pembaca
seolah-olah melihat, merasakan, mencium, dan mendengarkannya”. Karangan jenis
ini bermaksud memberikan kesan pada pembaca sehingga pembaca dapat membayangkan
apa yang sedang dibacanya.
2. Rata-rata jumlah kalimat pada sampel
di atas adalah 12 + 8/16 kalimat. Menjadi 12.5 kalimat. Dari wacana sampel tadi kita peroleh ada 228
suku kata. Perhatikan grafik Fry. Kemudian data yang kita peroleh dari langkah
1 dan 2 kita plotkan ke dalam grafik untuk mencari titik temunya. Pertemuan
antara baris vertikal dan horizontal menunjukkan tingkat-tingkat kelas pembaca.
Tingkat keterbacaan ini bersifat perkiraan. Oleh karena itu, peringkat
keterbacaan wacana sebaiknya ditambah 1 tingkat dan dikurangi 1 tingkat.
Diketahui titik temunya adalah 7, maka tingkat keterbacaan yang cocok untuk
peringkat 6, 7, 8.
DAFTAR
PUSTAKA
Basuni, Dede. (2012): “Olah Perspektif Pengembangan
Teknologi Pendidikan”.
pengembangan-teknologi-pendidikan/html.
[28-02-2012]
Jauhari,
H. (2013): Terampil Mengarang.
Bandung: Nuansa Cendikia.
Sakti, Ayu. (2011); “Keterbacaan”. Tersedia:
http://ayu-sakti.blogspot.com/2011/12/keterbacaan.html.
[10-12-2011]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar