Selasa, 31 Desember 2013

Menghitung Jumlah Kata Menurut Teori Fry



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia adalah makhluk individu dan sosial, dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak dapat terlepas dari individu yang lain. Secara kodrat manusia akan selalu hidup bersama. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi dan komunikasi baik dengan alam lingkungan dengan sesamanya maupun dengan Tuhannya.
Dalam proses interaksi dan komunikasi diperlukan keterampilan berbahasa aktif, kreatif, produktif dan resetif apresiatif yang mana salah satu unsurnya adalah keterampilan membaca yang bertujuan untuk menangkap dan memahami pesan ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan.
Dengan demikian
membaca sangat penting dalam proses belajar mengajar, oleh karena itu penulis akan mencoba menyusun konstribusi ilmu membaca dalam peningkatan mutu KBM di sekolah.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam rumusan makalah ini penulis akan memfokuskan pada beberapa masalah di bawah ini.
1.      Salin wacana kurang lebih 1200 kata. Kemudian tentukan jenis wacana tersebut.
2.      Ambil sampel 100 kata dari wacana tersebut. Kemudian hitunglah jumlah kalimat, suku kata, dan peringkatnya menurut teori Fry.
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Untuk mengetahui jenis wacana.
2.      Untuk mengetahui hasil dari sampel 100 kata dalam wacana dengan menghitung jumlah kalimat, suku kata, dan peringkatnya menurut teori Fry.
 
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Jenis Wacana
Berikut ini wacana yang penulis kutip.
Olah Perspektif Pengembangan Teknologi Pendidikan
Teknologi Pembelajaran merupakan suatu bidang studi terapan yang awalnya timbul dengan mensistensiskan berbagai teori dan konsep dari berbagai disiplin ilmu, ke dalam suatu usaha terpadu untuk memecahkan masalah belajar yang tidak terpecahkan denga pendekatan yang telah ada sebelumnya. Setiap bidang studi akan dapat berkembang bilamana didukung oleh penelitian yang dilakukan secara terus menerus. Penelitian dalam bidang studi teknologi pembelajaran tidak terlepas dari: (1). Falsafah dan landasan ilmiah yang telah menunjang keberadaannya seperti yang diungkapkan Robert Morgan (1978) bahwa terdapat 3 (tiga) disiplin utama yang menjadi dasar teknologi pembelajaran yaitu ilmu prilaku, ilmu komunikasi dan ilmu manajemen, sedangkan pendapat Donald P.Ely (1983) Teknologi Pembelajaran meramu sejumlah disiplin dasar dan bidang terapannya menjadi sesuatu prinsip, prosedur serta ketrampilan. Disiplin yang member kontribusi adalah: Basic Contributing Discipline (komunikasi, psikologi, evaluasi dan manajemen) dan Related Contributing Fields (psikologi persepsi, psikologi kognisi, media, system dan penilaian kebutuhan). (2). unsur-unsur dasar yang membentuknya, ini seperti dalam AECT (1994) terdiri dari kawasan Teknologi Pembelajaran yang terdiri dari Fungsi manajemen pembelajaran, Fungsi pengembangan pembelajaran dan Sumber belajar, (3). arah perkembangan dan kegunaannya, Paul Harmon (1982) berpendapat bahwa Teknologi Instruksional berawal dari praktek pendidikan yang mendapat masukan dari psikologi perilaku dengan pembelajaran terprogramnya, psikologi kognitif, teknologi permesinan, teknologi audio visual dan teknologi computer sehingga berkembang kearah rekayasa kinerja (performance engineering) dalam bidang usaha, sIstem pendidikan di sekolah dan luar sekolah, kemiliteran dan pembelajaran berbatuan komputer. Pendapat lain dari Kent R.Wood, Don C.Smillie dan Michael de Bloois (1990) mengatakan bahwa pada awalnya ilmu perpustakaan yang bersinggungan denan ilmu informasi berkembang menjadi bidang komunikasi audio-visual dan kemudian berkembang menjadi bidang media instruksional, bidang ini bersinggungan dengan pengembangan kurikulum. Glenn Snelbecker (1974) mengatakan bahwa kurikulum berkepentingan dengan pertanyaan “What” dan “Why” atau isi dan tujuan pendidik sedang teknologi pendidikan berkepentingan dengan “How” atau cara bagaimana tujuan pendidikan yang dicapai.
Dari penjelasan tersebut telah dapat kita reka tentang apa sebenarnya yang menjadi bidang garapan dalam Teknologi Pembelajaran. Yang paling esensial menurut penulis adalah bahwa perkembangan arah penelitian teknologi pembelajaran berlangsung dengan fase-fase yang mempersoalkan tentang: apa ada hasilnya?, seberapa besar hasilnya?, bagaimana kondisi dalam memperoleh hasil? siapa yang akan memperoleh manfaatnya? dan secara komprehensif pebelajar dengan kondisi yang bagaimana dapat memperoleh manfaat yang maksimal (dalam kondisi tertentu).
Potensi Teknologi Pendidikan mengandung komponen-komponen Teori dan Praktek dalam Desain, Pengembangan, Pemanfaatan, Pengelolaan dan Penilaian Proses dan Sumber untuk Belajar dapat bersinergi dengan berbagai bidang. Dengan demikian Teknologi Pendidikan tentunya banyak berkiprah secara luas untuk memajukan system pendidikan di Indonesia melalui potensi-potensinya. Secara umum potensi-potensi Teknologi Pendidikan (Ely, 1979).
1.    Meningkatkan produktivitas pendidikan dengan jalan: mempercepat tahap belajar (rate of learning), membantu guru untuk menggunakan waktu secara baik dan mengurang beban guru dalam menyajikan materi, sehingga akan dapat banyak membina dan mengembangkan kegairahan pebelajar.
2.   Memberi kemungkinan pembelajaran lebih bersifat individual dengan jalan: mengurangi control guru dan member kesempatan pebelajar berkembang sesuai dengan kemampuannya.
3.  Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan jalan: perencanaan program pembelajaran yang sistematis dan pengembangan bahan yang dilandasi penelitian perilaku.
            4.   Lebih memantapkan pembelajaran dengan jalan: meningkatkan kapabilitas manusia  
                  dengan berbagain media komunikasi dan penyajian informasi dan data lebih kongkrit.
5.  Memungkinkan belajar secara seketika (immediacy of learning), karena hal ini dapat mengurangi jurang pemisah antara pembelajaran di dalam dan diluar kelas juga memberi pengetahuan langsung.
6.    Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih luas, terutama adanya Media massa dengan jalan: pemanfaatan bersama (secara lebih luas) tenaga atau kejadian-kejadian langka serta penyajian informasi menembus batas geografi.
Belajar dengan cara menyenangkan bagi pebelajar, banyak kurang mendapatkan perhatian tenaga pendidik, sebagian besar tenaga pendidik mengajar dengan ceramah dan menjejali pebelajar dengan materi demi memenuhi target kurikulum. Sebenarnya kita sebenarnya telah melakukan inovasi-inovasi telah dikembangkan dan disebarluaskan, kita dapat berbangga hati karena telah melakukannya, akan tetapi kita tidak terlalu berbangga hati dan sibuk dengan kegiatan diri sendiri tanpa melihat disekeliling kita bagaimana Negara-negara tetangga menyiasati tantangan masa depan untuk membawa bangsanya pada persaingan global ? tentunya bangsa Indonesia juga akan terkait dengan masalah tersebut. Indonesia adalah Negara terbesar di Asia Tenggara, tentunya semakin rumit masalah yang akan dihadapi dimasa mendatang.
Dua masalah pokok yang umum dihadapi oleh setiap Negara yaitu peningkatan mutu dan perluasan kesempatan belajar. Berbagai upaya telah dilakukan oleh banyak Negara dengan mengagendakan reformasi pendidikan sebagai agenda pembangunan untuk mengatasi masalah tersebut. Pendayagunaan Teknologi Pendidikan (Educational Technology) atau apapun namanya banyak versi yang telah dikembangkan oleh Negara-negara tersebut seperti Teknologi untuk Pendidikan (Technology for Educational), Teknologi Informasi (Information Technologi/IT) atau Teknologi Komunikasi dan Informasi (Information and Comunication Technology / ICT) telah diyakini sebagai salah satu cara strategis untuk mengatasi masalah tersebut.
Penulis: Dede Basuni

Para pembaca pasti pernah membaca berbagai jenis karangan dari berbagai sumber bacaan, tetapi mungkin belum tahu karakteristiknya sehingga tidak pernah memikirkannya termasuk karangan jenis apa. Bacaan yang pernah dibaca mungkin berjenis deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi. Jenis-jenis karang itu mempunyai tujuan masing-masing sesuai dengan keinginan penulisnya terhadap pembaca.
Berdasarkan kutipan yang penulis ambil melalui internet dan sesuai dengan rumusan masalah pertama, maka wacana tersebut termasuk ke dalam karangan deskripsi yang menurut Jauhari (2013:45), “karangan deskripsi adalah karangan yang menggambarkan atau melukiskan benda atau peristiwa dengan sejelas-jelasnya sehinngga pembaca seolah-olah melihat, merasakan, mencium, dan mendengarkannya”. Karangan jenis ini bermaksud memberikan kesan pada pembaca sehingga pembaca dapat membayangkan apa yang sedang dibacanya.

2.2 Menghitung Jumlah Kalimat, Suku Kata, dan Peringkatnya Menurut
Teori Fry
Keterbacaan merupakan alih bahasa dari “Readability” yang merupakan turunan dari “Readable”,artinya dapat dibaca atau terbaca. Keterbacaan adalah hal atau ihwal terbaca-tidaknya suatu bahan bacaan tertentu oleh pembacanya. Keterbacaan mempersoalkan tingkat kesulitan atau tigkat kemudahan suatu bahan bacaan tertentu bagi peringkat pembaca tertentu. Keterbacaan merupakan ukuran tentang sesuai-tidaknya suatu bacaan bagi pembaca tertentu dilihat dari segi tingkat kesulitan atau kemudahan wacananya. Untuk memperkirakan tingkat keterbacaan bahan bacaan, banyak dipergunakan orang berbagai formula keterbacaan. Tingkat keterbacaan biasanya dinyatakan dalam bentuk peringkat kelas. Setelah melakukan pengukuran keterbacaan sebuah wacana, orang akan dapat mengetahui kecocokan materi bacaan tersebut untuk peringkat kelas tertentu.
Menurut Sakti (2011), “formula keterbacaan Fry ini mendasarkan formula keterbacaannya pada dua faktor utama, yaitu panjang-pendeknya kata dan tingkat kesulitan kata yang ditandai oleh jumlah (banyak-sedikitnya) suku kata yang membentuk setiap kata dalam wacana tersebut”.
Pertimbangan panjang-pendek kata dan tingkat kesulitan kata dalam pemakaian formula keterbacaan, semata-mata hanya didasarkan pada pertimbangan struktur permukaan teks. Struktur yang secara visual dapat dilihat. Sedangkan konsep yang terkandung dalam bacaan sebagai struktur dalam dari bacaan tersebut tampaknya tidak diperhatikan. Dengan kata lain, rumusan formula-formula keterbacaan sering digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan itu tidak memperhatikan unsur semantis.
Seperti halnya kriteria kesulitan kalimat, kriteria kesulitan kata juga didasarkan atas wujud (struktur) yang tampak. Jika sebuah kalimat secara visual tampak lebih panjang, artinya kalimat tersebut tergolong sukar, sebaliknya, jika sebuah kalimat atau kata secara visual tampak pendek, maka kalimat tersebut tergolong mudah.
Bagaimana dengan kriteria kesulitan kata? Apakah panjang-pendeknya sebuah kata benar-benar dapat menjadi indikator bagi tingkat kesulitan kata yang bersangkutan? Bila dibandingkan, kata era dan kata zaman, maka kita akan menyetujui bahwa kata era lebih tinggi keterbacaannya, walaupun katanya lebih pendek dibandingkan dengan kata zaman, begitu pula sebaliknya.
Contoh wacana;
“Pada suatu hari Inu ikut ayahnya ke bank. Di bank itu banyak orang. Di loket tabungan ada yang mengambil uang. Ada juga yang menyimpan uang. Di loket yang lain orang-orang juga antre. Ada juga beberapa petugas bank duduk di luar loket-loket antrean. Mereka melayani orang-orang yang bertanya tentang cara-cara menabung atau hal-hal lain. Ayah Inu berada di barisan loket tabungan. Inu menunggu ayahnya di ruang tunggu. Dia memperhatikan kesibukan orang-orang ditempat itu. Waktu Inu melihat satu kursi kosng di depan petugas yang melayani pertanyaan, dia segera berdiri. Inu mendekati kursi itu. Petugas pun mengerti, lalu dia mempersilakan Inu duduk dan menawarkan bantuan yang mungkin dapat dia berikan”.
Rata-rata jumlah kalimat pada sampel di atas adalah 12 + 8/16 kalimat. Menjadi 12.5 kalimat.  Dari wacana sampel tadi kita peroleh ada 228 suku kata. Perhatikan grafik Fry. Kemudian data yang kita peroleh dari langkah 1 dan 2 kita plotkan ke dalam grafik untuk mencari titik temunya. Pertemuan antara baris vertikal dan horizontal menunjukkan tingkat-tingkat kelas pembaca. Tingkat keterbacaan ini bersifat perkiraan. Oleh karena itu, peringkat keterbacaan wacana sebaiknya ditambah 1 tingkat dan dikurangi 1 tingkat. Diketahui titik temunya adalah 7, maka tingkat keterbacaan yang cocok untuk peringkat 6, 7, 8.
 
BAB 3
SIMPULAN
Akhirnya makalah yang penulis buat sampailah pada simpulan. Berdasarkan penjelasan pada bab-bab sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan.
1.   Berdasarkan kutipan yang penulis ambil melalui internet dan sesuai dengan rumusan masalah pertama, maka wacana tersebut termasuk ke dalam karangan deskripsi yang menurut Jauhari (2013:45), “karangan deskripsi adalah karangan yang menggambarkan atau melukiskan benda atau peristiwa dengan sejelas-jelasnya sehinngga pembaca seolah-olah melihat, merasakan, mencium, dan mendengarkannya”. Karangan jenis ini bermaksud memberikan kesan pada pembaca sehingga pembaca dapat membayangkan apa yang sedang dibacanya.
2.   Rata-rata jumlah kalimat pada sampel di atas adalah 12 + 8/16 kalimat. Menjadi 12.5 kalimat.  Dari wacana sampel tadi kita peroleh ada 228 suku kata. Perhatikan grafik Fry. Kemudian data yang kita peroleh dari langkah 1 dan 2 kita plotkan ke dalam grafik untuk mencari titik temunya. Pertemuan antara baris vertikal dan horizontal menunjukkan tingkat-tingkat kelas pembaca. Tingkat keterbacaan ini bersifat perkiraan. Oleh karena itu, peringkat keterbacaan wacana sebaiknya ditambah 1 tingkat dan dikurangi 1 tingkat. Diketahui titik temunya adalah 7, maka tingkat keterbacaan yang cocok untuk peringkat 6, 7, 8.

DAFTAR PUSTAKA
Basuni, Dede. (2012): “Olah Perspektif Pengembangan Teknologi Pendidikan”.
Jauhari, H. (2013): Terampil Mengarang. Bandung: Nuansa Cendikia.
Sakti, Ayu. (2011); “Keterbacaan”. Tersedia:
http://ayu-sakti.blogspot.com/2011/12/keterbacaan.html. [10-12-2011]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Materi Teks Negosiasi (Pengertian, Tujuan, Ciri-ciri, Langkah-langkah, Struktur, Kaidah Kebahasaan, dan Contoh)

  TEKS NEGOSIASI DAFTAR ISI 1.       Pengertian 2.       Tujuan 3.       Ciri-ciri 4.       Langkah-langkah penulisan teks negosia...